Skip to main content

Stop Salah Kaprah! Account-based Marketing Versi Praktis

Diterbitkan Juni 5, 2025·Diperbarui Juni 5, 2025

Dunia pemasaran terus berputar, melahirkan tren dan strategi baru yang terkadang membuat kita kewalahan. Salah satu yang kerap disebut namun sering disalahpahami adalah Account-Based Marketing atau ABM. Banyak yang langsung mengernyitkan dahi, membayangkan strategi super rumit yang hanya cocok untuk perusahaan raksasa dengan anggaran tak terbatas. Anggapan ini, sayangnya, adalah sebuah "salah kaprah" yang perlu diluruskan. Justru, di tengah kebisingan informasi dan persaingan yang semakin ketat, memahami dan menerapkan ABM versi praktis bisa menjadi kunci sukses bagi para profesional, pemilik UMKM, marketer, hingga praktisi industri kreatif, termasuk Anda yang bergerak di bidang percetakan dan desain. Mengapa? Karena ABM menawarkan pendekatan yang lebih terfokus, efisien, dan pada akhirnya, lebih menguntungkan. Ini bukan tentang menjaring sebanyak mungkin ikan dengan jala besar, melainkan memancing ikan-ikan besar dengan umpan yang tepat dan disukai.

Mari kita jujur, berapa banyak dari kita yang pernah merasa frustrasi karena anggaran pemasaran seolah menguap tanpa hasil signifikan? Kampanye besar-besaran diluncurkan, ribuan brosur disebar, atau iklan digital dipasang dengan jangkauan luas, namun prospek yang datang berkualitas rendah atau bahkan tidak relevan sama sekali. Tantangan ini jamak ditemui. Sebuah laporan dari ITSMA (Information Technology Services Marketing Association), pionir dalam ABM, menunjukkan bahwa ABM memberikan Return on Investment (ROI) yang lebih tinggi dibandingkan inisiatif pemasaran lainnya. Ini terjadi karena ABM membalik corong pemasaran tradisional. Alih-alih menyebar pesan secara massal dan berharap ada yang tertarik (model many-to-many atau one-to-many), ABM fokus pada identifikasi akun-akun (perusahaan atau klien) bernilai tinggi yang paling potensial, lalu membangun hubungan dan menyampaikan pesan yang sangat personal kepada mereka (one-to-few atau one-to-one). Di era di mana personalisasi menjadi ekspektasi, pendekatan generik sudah tidak lagi mempan, terutama di pasar B2B atau ketika Anda menargetkan klien-klien premium untuk jasa desain atau proyek percetakan skala besar.

Lalu, bagaimana menerapkan ABM tanpa harus menjadi korporasi multinasional? Pertama-tama, mari kita bongkar mitos bahwa ABM itu eksklusif untuk pemain besar. Pada intinya, ABM adalah tentang kualitas, bukan kuantitas. Ini adalah strategi yang mengalihkan fokus dari menarik banyak prospek menjadi menarik prospek yang tepat dan paling berharga. Bayangkan Anda adalah sebuah butik desain yang ingin mendapatkan proyek rebranding dari perusahaan teknologi skala menengah. Alih-alih beriklan secara umum ke semua jenis bisnis, dengan ABM, Anda akan mengidentifikasi beberapa perusahaan teknologi spesifik yang menunjukkan tanda-tanda membutuhkan layanan Anda, lalu mendekati mereka dengan proposal atau portofolio yang khusus dirancang untuk menjawab kebutuhan unik mereka. Prinsip ini sangat bisa diterapkan bahkan oleh seorang freelancer atau UMKM. Kuncinya adalah selektivitas dan pemahaman mendalam terhadap calon klien. Daripada mengirim 1000 email generik, kirimlah 10 email yang sangat personal dan relevan. Efektivitasnya seringkali jauh lebih tinggi.

Setelah memahami bahwa ABM bisa diadaptasi, langkah fundamental berikutnya adalah mengenal lebih dekat siapa "akun" atau klien ideal Anda. Ini adalah fondasi dari seluruh strategi ABM yang akan Anda bangun. Tanpa pemahaman yang jelas tentang siapa target Anda, upaya personalisasi akan sia-sia. Mulailah dengan membuat Ideal Customer Profile (ICP) atau Profil Klien Ideal. ICP ini bukan sekadar demografi usia atau jenis kelamin, melainkan karakteristik perusahaan atau individu yang paling mungkin mendapatkan manfaat terbesar dari produk atau jasa Anda, dan sebaliknya, memberikan nilai terbesar bagi bisnis Anda. Pertimbangkan faktor seperti industri, ukuran perusahaan, pendapatan tahunan, tantangan bisnis yang mereka hadapi, teknologi yang mereka gunakan, hingga budaya perusahaan. Untuk Anda di industri percetakan, mungkin ICP Anda adalah restoran waralaba yang membutuhkan cetak menu dan materi promosi secara berkala, atau perusahaan event organizer yang selalu membutuhkan materi cetak berkualitas tinggi. Bagi seorang desainer, bisa jadi perusahaan rintisan yang baru mendapatkan pendanaan dan butuh identitas visual yang kuat. Lakukan riset, analisis data pelanggan Anda yang sudah ada, dan jangan ragu untuk "menguntit" profil LinkedIn atau website calon klien potensial. Dari daftar panjang, prioritaskan beberapa akun kunci yang akan menjadi fokus utama kampanye ABM Anda. Ingat, lebih baik fokus pada segelintir akun berkualitas tinggi daripada menyebar sumber daya secara tipis ke banyak akun.

Ketika akun-akun ideal telah teridentifikasi, inilah saatnya untuk menerapkan inti dari ABM: personalisasi yang mendalam. Di sinilah sentuhan pribadi Anda akan membuat perbedaan signifikan. Lupakan pendekatan "satu untuk semua". Setiap akun adalah unik, dengan kebutuhan, tantangan, dan pembuat keputusan yang berbeda. Pesan, konten, dan bahkan penawaran Anda harus disesuaikan secara spesifik. Misalnya, jika Anda menargetkan sebuah perusahaan di sektor perhotelan untuk layanan percetakan materi promosi eksklusif, jangan hanya mengirimkan katalog produk standar. Riset terlebih dahulu hotel tersebut, pahami brand image mereka, identifikasi kampanye pemasaran terakhir mereka, lalu buatlah mock-up atau contoh materi cetak (misalnya, booklet layanan kamar atau kartu ucapan selamat datang) yang benar-benar mencerminkan gaya dan kebutuhan mereka. Studi dari SmarterHQ menunjukkan bahwa 72% konsumen hanya akan berinteraksi dengan pesan pemasaran yang disesuaikan dengan minat spesifik mereka. Untuk layanan desain, Anda bisa membuat studi kasus mini atau presentasi singkat yang menunjukkan bagaimana solusi desain Anda dapat secara langsung mengatasi masalah yang dihadapi oleh perusahaan target tersebut, bukan hanya portofolio generik. Personalisasi ini menunjukkan bahwa Anda telah melakukan "pekerjaan rumah" dan benar-benar peduli untuk memberikan solusi yang relevan, bukan sekadar menjual.

Terakhir, namun tak kalah penting, adalah membangun sinergi antara tim pemasaran dan penjualan. Dalam konteks ABM, kedua fungsi ini tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri atau bahkan saling menyalahkan. Mereka harus menjadi satu tim impian yang solid. Bahkan jika Anda adalah seorang profesional tunggal atau UMKM dengan tim kecil di mana satu orang merangkap banyak peran, keselarasan ini tetap krusial dalam pola pikir dan eksekusi. Pemasaran bertanggung jawab untuk mengidentifikasi akun, menciptakan konten yang dipersonalisasi, dan membangun kesadaran serta minat awal. Penjualan kemudian mengambil alih untuk membangun hubungan yang lebih dalam, memahami kebutuhan secara detail, dan menutup kesepakatan. Komunikasi yang berkelanjutan dan umpan balik dua arah adalah kuncinya. Tim penjualan bisa memberikan insight berharga tentang apa yang benar-benar penting bagi akun target, sementara tim pemasaran dapat menyediakan materi pendukung yang relevan dan tepat waktu. Misalnya, tim penjualan menemukan bahwa sebuah akun prospektif sangat tertarik pada aspek keberlanjutan dalam produksi cetak. Tim pemasaran kemudian bisa dengan cepat menyiapkan materi khusus yang menyoroti praktik ramah lingkungan Uprint.id atau opsi kertas daur ulang. Menurut sebuah laporan dari Marketo, perusahaan dengan keselarasan yang kuat antara penjualan dan pemasaran mencapai pertumbuhan pendapatan tahunan 20% lebih tinggi.

Menerapkan poin-poin di atas secara konsisten akan membawa dampak jangka panjang yang signifikan bagi bisnis Anda. Bayangkan ROI pemasaran yang meningkat karena Anda tidak lagi membuang anggaran untuk audiens yang tidak tepat. Siklus penjualan yang lebih pendek karena Anda berinteraksi dengan prospek yang lebih berkualitas dan sudah "dihangatkan" dengan pendekatan personal. Loyalitas pelanggan yang lebih tinggi karena mereka merasa dipahami dan dilayani secara khusus, bukan hanya sebagai angka. Lebih dari itu, Anda akan membangun reputasi sebagai brand yang cerdas, peduli, dan benar-benar memahami kebutuhan kliennya. Efektivitas kerja tim (atau individu) pun akan meningkat karena adanya fokus dan tujuan yang jelas. Ini bukan lagi tentang seberapa sibuk Anda, tetapi seberapa produktif dan berdampak aktivitas pemasaran Anda.

Pada akhirnya, Account-Based Marketing versi praktis bukanlah tentang menambah kerumitan, melainkan tentang membawa kecerdasan dan fokus ke dalam upaya pemasaran Anda. Ini adalah pergeseran dari kuantitas ke kualitas, dari pesan massal ke percakapan personal, dan dari upaya terisolasi ke kolaborasi strategis. Dengan memahami esensinya, mengidentifikasi akun ideal Anda, mempersonalisasi pendekatan, dan menyelaraskan upaya, Anda tidak hanya akan "berhenti salah kaprah" tentang ABM, tetapi juga membuka pintu menuju pertumbuhan bisnis yang lebih berkelanjutan dan hubungan pelanggan yang lebih kuat. Jadi, mulailah dari yang kecil, pilih satu atau dua akun potensial, dan terapkan prinsip-prinsip ini. Anda mungkin akan terkejut dengan hasilnya.

Ditulis oleh
Tinus
Tinus · Head of Sales
Tinus adalah profesional bisnis dengan pengalaman lebih dari satu dekade di bidang sales, operasional, pemasaran, pengembangan bisnis, dan layanan keuangan. Sebagai Head of Sales Uprint.id, ia setiap hari mendampingi pelanggan B2B memilih solusi cetak yang tepat, dari kartu nama, brosur, dan banner untuk kebutuhan penjualan hingga kemasan produk untuk memperkuat brand. Berbekal rekam jejak memimpin tim, membangun hubungan pelanggan strategis, dan menyempurnakan proses bisnis, ia menulis dari pengalaman nyata di lapangan tentang bagaimana materi cetak membantu bisnis menutup lebih banyak transaksi dan bertumbuh secara berkelanjutan.
Artikel Lainnya