
Pernahkah kamu berada di titik di mana secara di atas kertas, semuanya terlihat baik-baik saja? Pekerjaan stabil, gaji cukup, proyek berjalan. Namun, saat bangun di pagi hari, ada perasaan hampa, seolah semangat yang dulu membara kini hanya tinggal percikan kecil. Kamu merasa seperti robot yang menjalankan rutinitas, terjebak di tempat yang sama tanpa gairah untuk melompat lebih tinggi. Jika perasaan ini terdengar familiar, kamu mungkin sedang mengalami krisis motivasi. Sering kali, kita terlalu bergantung pada motivasi ekstrinsik, yaitu dorongan dari luar seperti gaji, bonus, pujian, atau jabatan. Masalahnya, dorongan ekstrinsik ini ibarat menenggak minuman manis: ia memberikan lonjakan energi sesaat, namun cepat hilang dan sering kali diikuti oleh rasa lelah. Untuk keluar dari jebakan ini, kita perlu menemukan sumber energi yang lebih berkelanjutan, yang datang dari dalam diri. Inilah yang disebut dengan motivasi intrinsik, sebuah bahan bakar premium yang bisa membuat mesinmu terus menyala tanpa harus terus-menerus diisi dari luar.
Ketergantungan berlebih pada imbalan eksternal menempatkan kita pada apa yang oleh para psikolog disebut sebagai “hedonic treadmill”. Ini adalah sebuah lingkaran setan di mana kita terus menerus mengejar imbalan yang lebih besar hanya untuk mempertahankan tingkat kebahagiaan yang sama. Begitu kita mendapatkan kenaikan gaji atau promosi yang kita dambakan, kebahagiaan itu hanya bertahan sesaat sebelum kita mulai mengincar target berikutnya. Proses ini sangat melelahkan dan membuat kita lupa pada esensi dari apa yang kita kerjakan. Ketika kepuasan hanya datang dari validasi eksternal, pekerjaan itu sendiri terasa seperti beban. Kualitas hasil kerja menurun, prokrastinasi meningkat, dan risiko burnout membayangi. Perasaan “stuck” atau terjebak sebenarnya adalah sinyal dari dalam diri bahwa sumber energi kita sudah tidak lagi efisien dan kita perlu beralih ke sumber yang lebih otentik.

Untuk mulai membangkitkan kembali sumber energi dari dalam, kita bisa mengacu pada kerangka kerja yang sangat kuat dan telah teruji, yang dipopulerkan oleh penulis Daniel Pink berdasarkan Self-Determination Theory. Kerangka ini menyatakan bahwa motivasi intrinsik yang sejati ditopang oleh tiga pilar psikologis fundamental. Memahami dan secara sadar membangun ketiga pilar ini dalam kehidupan profesional kita adalah cara paling praktis untuk keluar dari stagnasi.
Pilar pertama yang perlu kita bangun adalah Otonomi (Autonomy), yaitu hasrat untuk bisa mengarahkan hidup kita sendiri. Otonomi di tempat kerja bukan berarti kebebasan absolut tanpa aturan. Ini adalah tentang memiliki kendali dan pilihan atas bagaimana kita menjalankan tugas kita. Ini adalah perasaan bahwa kita dipercaya sebagai seorang profesional yang mampu membuat keputusan. Sebagai seorang desainer, otonomi bisa berarti diberi kebebasan untuk mengeksplorasi pendekatan visual yang berbeda untuk sebuah proyek brosur, selama masih sejalan dengan brief klien. Bagi seorang pemasar, ini bisa berupa keleluasaan untuk menguji coba kanal pemasaran baru yang diyakininya efektif. Bahkan dalam peran yang paling terstruktur sekalipun, otonomi bisa ditemukan dengan cara proaktif mengusulkan perbaikan alur kerja atau mengatur prioritas tugas harian secara mandiri. Ketika kita merasa memiliki kendali, pekerjaan berubah dari sekadar perintah menjadi sebuah tanggung jawab yang kita pilih.
Selanjutnya, pilar kedua adalah Penguasaan (Mastery), yaitu dorongan untuk terus menjadi lebih baik dalam sesuatu yang berarti. Manusia secara alami merasa puas ketika mereka melihat kemajuan. Perasaan stagnan sering kali muncul karena kita merasa tidak lagi belajar atau berkembang. Untuk memupuk pilar penguasaan, kita perlu secara sadar menciptakan tantangan yang pas untuk diri kita sendiri, tidak terlalu mudah sehingga membosankan, namun tidak terlalu sulit sehingga membuat frustrasi. Ini adalah tentang masuk ke dalam “flow state”, kondisi di mana kita begitu tenggelam dalam sebuah aktivitas sehingga waktu terasa berlalu begitu cepat. Caranya bisa dengan memecah sebuah keahlian besar menjadi bagian-bagian kecil untuk dilatih setiap hari, meminta umpan balik konstruktif secara teratur untuk mengetahui area perbaikan, atau mendedikasikan waktu khusus setiap minggu untuk mempelajari hal baru yang relevan dengan bidang kita. Rasa puas yang datang dari berhasil memecahkan masalah yang sulit atau menghasilkan karya dengan kualitas lebih tinggi dari sebelumnya adalah sumber motivasi yang sangat kuat.

Pilar ketiga dan yang paling mendalam adalah Tujuan (Purpose), yaitu keinginan untuk melakukan apa yang kita lakukan demi sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Gaji dan bonus bisa membeli kenyamanan, tetapi tujuanlah yang memberikan makna. Ini adalah jawaban dari pertanyaan “Mengapa pekerjaan ini penting?”. Menemukan tujuan tidak harus selalu tentang menyelamatkan dunia. Tujuan bisa ditemukan dalam skala yang lebih personal dan profesional. Hubungkan tugas-tugas harian Anda dengan dampak positif yang Anda berikan kepada pelanggan. Seorang desainer grafis tidak hanya “membuat gambar”, ia membantu sebuah UMKM untuk memiliki identitas visual yang profesional agar bisa bersaing. Seorang petugas cetak tidak hanya “menjalankan mesin”, ia memastikan undangan pernikahan sebuah pasangan tercetak sempurna untuk hari terpenting dalam hidup mereka. Secara aktif merenungkan dan menuliskan bagaimana kontribusi kecil Anda menjadi bagian dari sebuah cerita yang lebih besar akan memberikan lapisan makna yang mendalam pada setiap pekerjaan yang Anda lakukan.
Ketika ketiga pilar ini mulai terbangun, Anda akan merasakan sebuah pergeseran fundamental. Energi untuk bekerja tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus dipaksakan. Rasa ingin tahu akan menggantikan kebosanan, ketahanan akan menggantikan keputusasaan, dan keterlibatan yang mendalam akan menggantikan rutinitas yang hampa. Motivasi intrinsik tidak hanya membuat Anda merasa lebih baik, ia juga terbukti secara ilmiah meningkatkan kreativitas, inovasi, dan kualitas kerja secara keseluruhan. Anda akan menjadi seorang pemecah masalah yang proaktif, bukan lagi sekadar seorang eksekutor tugas.

Pada akhirnya, perasaan “stuck” adalah sebuah undangan untuk introspeksi. Ini adalah panggilan untuk berhenti sejenak mencari bahan bakar dari sumber eksternal yang tidak menentu, dan mulai menggali sumur energi yang tak terbatas di dalam diri. Proses ini tidak terjadi dalam semalam, tetapi merupakan sebuah praktik yang berkelanjutan. Mulailah dari langkah kecil. Minggu ini, pilih satu pilar untuk difokuskan. Tanyakan pada diri sendiri: “Di mana saya bisa menciptakan sedikit lebih banyak otonomi dalam pekerjaan saya besok?” atau “Apa satu keahlian kecil yang bisa saya latih selama 15 menit hari ini?”. Langkah-langkah kecil inilah yang akan secara perlahan tapi pasti menyalakan kembali api motivasi Anda, dan membebaskan Anda dari perasaan terjebak di tempat.

