Skip to main content

Rahasia Choosing Tactics Yang Jarang Dibongkar Marketer

Diterbitkan Juni 12, 2025·Diperbarui Juni 12, 2025

Dunia pemasaran digital dan konvensional saat ini terasa seperti sebuah buffet raksasa yang menyajikan ratusan pilihan menu. Ada SEO, iklan media sosial, kampanye influencer, email marketing, webinar, hingga materi cetak premium seperti brosur dan katalog. Setiap hari, muncul "tren" baru yang digadang gadang sebagai kunci sukses berikutnya. Bagi banyak pemilik bisnis dan bahkan tim pemasaran, kondisi ini seringkali melahirkan "shiny object syndrome", sebuah kecenderungan untuk melompat dari satu taktik ke taktik lain tanpa arah yang jelas. Hasilnya? Anggaran terbuang, tim kelelahan, dan dampak bisnis yang minimal. Padahal, rahasia di balik pemilihan taktik (choosing tactics) yang efektif bukanlah tentang mengetahui semua tren, melainkan memahami sebuah kerangka berpikir fundamental yang jarang dibongkar secara gamblang oleh para marketer berpengalaman.

Rahasia pertama dan paling mendasar adalah kesadaran untuk berhenti mengejar tren, dan mulai dari peta strategi. Banyak yang keliru menganggap strategi dan taktik adalah hal yang sama. Padahal, keduanya berada di level yang sangat berbeda. Strategi adalah peta besar Anda, ia menjawab pertanyaan "Ke mana kita akan pergi?" dan "Mengapa kita harus ke sana?". Sedangkan taktik adalah kendaraan yang Anda pilih untuk sampai ke tujuan tersebut. Memilih taktik tanpa strategi yang jelas ibarat Anda memesan tiket pesawat, kereta, dan bus sekaligus tanpa tahu kota mana yang ingin Anda datangi. Anda sibuk bepergian, tetapi tidak pernah sampai. Sebelum Anda memutuskan untuk membuat konten TikTok atau mencetak ribuan flyer, tanyakan dulu pada diri sendiri: Apa tujuan utama bisnis saya kuartal ini? Apakah meningkatkan kesadaran merek di kalangan audiens baru, atau mendorong pembelian ulang dari pelanggan setia? Strategi yang fokus pada peningkatan loyalitas pelanggan tentu akan membutuhkan pilihan taktik yang sangat berbeda dibandingkan strategi untuk akuisisi pelanggan baru.

Setelah Anda memegang peta strategi yang jelas, rahasia kedua adalah memetakan perjalanan pelanggan, bukan sekadar menjual. Setiap taktik pemasaran memiliki kekuatan supernya masing masing, tetapi kekuatan itu hanya akan efektif jika digunakan pada waktu dan tempat yang tepat di sepanjang perjalanan pelanggan (customer journey). Meminta pelanggan yang baru pertama kali mendengar merek Anda untuk langsung membeli produk premium adalah seperti mengajak kenalan baru untuk langsung menikah. Anda perlu membangun hubungan secara bertahap. Para marketer andal secara intuitif membagi perjalanan ini menjadi beberapa fase. Pada fase Awareness (Kesadaran), di mana target audiens bahkan belum mengenal Anda, taktik seperti artikel blog yang informatif, konten media sosial yang menghibur, atau pemasangan iklan luar ruang yang menarik secara visual bisa menjadi pilihan jitu.

Ketika audiens mulai mengenal dan mempertimbangkan Anda di fase Consideration (Pertimbangan), mereka butuh diyakinkan lebih dalam. Di sinilah taktik seperti studi kasus yang mendalam, ulasan produk dari pelanggan lain, webinar edukatif, atau sebuah marketing kit yang dirancang dan dicetak secara profesional bisa memberikan dampak luar biasa. Sebuah brosur berkualitas tinggi yang menjelaskan detail produk dengan apik bisa menjadi pembeda krusial dari kompetitor. Barulah di fase Conversion (Konversi), taktik yang lebih agresif seperti penawaran diskon terbatas, iklan retargeting, atau halaman penjualan yang persuasif dapat mendorong mereka untuk mengambil tindakan. Dan perjalanan tidak berhenti di situ. Pada fase Loyalty (Loyalitas), taktik seperti buletin email eksklusif atau program keanggotaan dapat mengubah pembeli satu kali menjadi penggemar setia. Memahami peta ini membuat pilihan taktik Anda menjadi jauh lebih tajam dan relevan.

Rahasia terakhir yang seringkali dianggap tidak menarik namun sangat menentukan adalah menerapkan filter realitas: alokasi sumber daya dan metrik yang jelas. Sebuah ide taktik yang brilian di atas kertas bisa menjadi bencana jika dieksekusi dengan sumber daya yang tidak memadai. Sebelum jatuh cinta pada sebuah taktik, lakukan audit jujur terhadap tiga sumber daya utama Anda: waktu, uang, dan keahlian (time, money, and skill). Membuat konten video berkualitas tinggi mungkin terlihat menarik, tetapi apakah tim Anda memiliki keahlian videografi dan editing? Apakah Anda punya waktu untuk memproduksinya secara konsisten? Jika tidak, mungkin alokasi anggaran (uang) untuk iklan di media cetak yang relevan atau berkolaborasi dengan desainer grafis profesional akan memberikan hasil yang jauh lebih baik.

Selanjutnya, setiap taktik yang dipilih harus memiliki pasangan yang tidak terpisahkan, yaitu metrik keberhasilan atau Key Performance Indicator (KPI). Jangan pernah memilih taktik dengan tujuan yang kabur seperti "untuk meningkatkan branding". Ubah itu menjadi sesuatu yang terukur. Misalnya, jika Anda memilih taktik menjalankan kampanye iklan di Instagram, KPI yang jelas bisa berupa "menghasilkan 500 klik ke website dengan biaya per klik di bawah Rp1.000". Jika Anda memutuskan untuk menyebar brosur di sebuah pameran, KPI nya bisa berupa "mendapatkan 50 prospek baru yang memindai QR code di brosur". Metrik yang jelas ini tidak hanya membuktikan apakah sebuah taktik berhasil atau tidak, tetapi juga memberikan data berharga untuk mengoptimalkan strategi Anda di masa depan.

Pada akhirnya, memilih taktik pemasaran yang tepat bukanlah tentang sihir atau menebak nebak. Ini adalah sebuah disiplin yang menggabungkan visi strategis, empati mendalam terhadap perjalanan pelanggan, dan penilaian yang jujur terhadap kapasitas internal. Dengan mengadopsi kerangka berpikir ini, Anda akan berhenti menjadi korban dari kilau tren sesaat dan mulai menjadi seorang arsitek pemasaran yang membangun jembatan yang kokoh antara merek Anda dan pelanggan yang tepat, menggunakan kendaraan yang paling efisien untuk mencapai tujuan bisnis Anda.

Ditulis oleh
Yustian Tenegar
Yustian Tenegar · Cofounder
Yustian Tenegar adalah Founder & CEO Uprint.id, pakar dengan pengalaman lebih dari 20 tahun yang menguasai tiga disiplin sekaligus: produksi percetakan dan kemasan (offset, digital printing, quality control), digital marketing, serta pemrograman dan AI. Ia memahami bisnis cetak langsung dari lantai produksi sampai baris kode, dari menghitung biaya per unit hingga membangun sendiri sistem AI internal Uprint. Tulisannya membahas keputusan cetak, dari kartu nama, brosur, sampai kemasan produk, selalu dengan kacamata data dan dampak bisnis nyata.
Artikel Lainnya