Skip to main content
Teks metal 'Typography' dalam gaya tipografi klasik
Tren Desain & Inspirasi Cetak

5 Kesalahan yang Kerap Dilakukan Desainer Grafis Saat Membuat Tipografi

Diterbitkan Mei 30, 2017·Diperbarui Februari 25, 2018
Tipografi secara umum merupakan suatu ilmu dalam memilih dan menata huruf. Penggunaan tipografi juga bisa diatur sesuai dengan penyebarannya pada ruang-ruang yang tersedia, menciptakan kesan tertentu sehinga dapat memudahkan para pembaca untuk menerima maksud yang ingin disampaikan dengan benar. Oleh karena itu, sebagai desainer Anda harus pintar-pintar mengatur dan memahami tipografi dengan baik. Hindari beberapa kesalahan umum berikut ini yang sering dilakukan oleh desainer grafis dalam membuat tipografi. 1. Kurangnya Leading  tipografi Leading merupakan jarak antar dua baris pada tulisan yang Anda buat. Dalam membuat tipografi, leading memegang peran penting untuk meningkatkan kemudahan pembacaan teks dalam sebuah halaman. Tidak hanya itu, leading juga bisa membuat teks tersebut mudah diikuti oleh para pembaca tanpa harus kehilangan letak teks yang sedang dibaca. Jarak antar baris yang terlalu kecil atau rapat bisa meninggalkan kesan sempit dan sulit terbaca. Sebenarnya, tidak ada pemilihan jarak yang tepat untuk mengatur leading, namun penilaian estetika bisa menjadi dasar bagaimana kemudahaan pembacaan pada teks itu sendiri. 2. Kurangnya Tracking  tipografi Tracking mengacu pada ruang antar huruf di seluruh kata atau frase. Semakin besar tracking, semakin banyak pula karakter yang membentuk sebuah kata dan memiliki ruang di antara kedua sisi. Hal ini hampir sama dengan leading yang bisa meningkatkan keterbacaan ataupun mengurangi tingkat keterbacaan tulisan tersebut di mata pembaca. Peraturan yang digunakan untuk tracking ini cenderung relatif dan bergantung pada jenis font. 3. Mengabaikan Pengaturan Kerning  tipografi Jika tracking adalah jarak antar kata, maka kerning merupakan pengaturan spasi antara dua huruf. Kerning ini efektif digunakan pada headlines, teks dengan caps lock, dan juga logo. Ketika sedang merancang tipografi, jangan sampai Anda melewatkan pengaturan kerning atau bahkan mengaturnya secara default. Karena perlu dingat lagi bahwa setiap font memiliki kerning ideal yang berbeda, sama seperti poin sebelumnya. 4. Menggunakan Terlalu Banyak Jenis Font dalam 1 Desain  tipografi Salah satu kesalahan terbesar yang dilakukan oleh para desainer, terutama para pemula, adala kecenderungan untuk menggunakan terlalu banyak font dalam desainnya. Secara umum, hal terbaik yang bisa Anda lakukan dalam seni tipografi adalah dengan membatasi satu karya hanya berisi tiga jenis font berbeda. Jenis font yang terlalu banyak bisa membuat pembaca Anda merasa tidak nyaman ketika membacanya dan membuat desain Anda terlihat putus-putus. 5. Salah Menentukan Panjang Baris yang Wajar  tipografi Ini merupakan masalah keterbacaan lainnya yang juga sering tanpa sadar dilakukan. Panjang baris yang terlalu banyak dapat menyulitkan para pembaca untuk menemukan baris berikutnya dan akhirnya bisa menghambat pemahaman seseorang terhadap pesan yang ingin disampaikan. Secara umum, panjang baris atau jumlah teks yang ideal dalam sebuah karya tipografi adalah sekitar 50-60 karakter. Nah, itulah beberapa kesalahan umum yang sering ditemukan dalam seni tipografi. Selain memiliki banyak bentuk yang bernilai estetis, tipografi juga memiliki peran untuk mengomunikasikan ide atau informasi dari sebuah halaman ke pengamat atau pembaca. Oleh karena itulah, Anda sebagai seorang desainer harus pintar-pintar memperhatikan beberapa hal ketika membuat tipografi.
Ditulis oleh
Novi Huang
Novi Huang · CCO
Novi Huang adalah Chief Creative Officer Uprint.id dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang creative direction, brand strategy, dan growth hacking. Ia mengarahkan bahasa visual Uprint dan membantu brand merancang kemasan (packaging), stiker, brosur, serta materi cetak lain yang bukan sekadar enak dilihat, tetapi terbukti mendorong pertumbuhan bisnis. Lewat eksperimen kreatif yang terukur, termasuk pemanfaatan AI dalam proses desain, ia menulis tentang cara menjadikan desain dan cetakan sebagai aset brand, bukan sekadar biaya.