Poster Event Yang Ceria Bisa Meningkatkan Traffic Toko
Merry kecil mulai menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Don Bosco Pulomas yang terletak di sebuah pemukiman wilayah ujung Jakarta Timur dan berbatasan dengan Jakarta Utara. Kemudian melanjutkan pendidikan ke SMP Santa Ursula, Jakarta Pusat dan menamatkan jenjang pendidikan menengah di sekolah katolik khusus perempuan, SMA Santa Ursula, Jakarta Pusat. Setelah lulus sekolah menengah, ia berencana untuk melanjutkan kuliahnya di Universitas Trisakti daerah Jakarta. Namun apa daya, banyak masalah yang kala itu terjadi. Saat tahun kelulusan SMA, ada tiga peristiwa bergejolak yang melanda negeri ini. Tepatnya di tahun 1998, antara lain krisis moneter, kerusuhan besar, dan lengsernya Presiden ke-2 Soeharto yang menandai pergantian era dari order baru ke era reformasi.
Demi keamanan dan keselamatan dirinya, diterbangkan ke luar negeri yaitu Singapore. Dengan modal pas-pasan dan dapat dikatakan kurang ini ia harus berjuang memikirkan kehidupannya selama di sana. Hingga akhirnya selama ia menempuh pendidikan jenjang lanjut di Universitas Teknologi Nanyang (Nanyang Technological University (NTU) mengambil fakultas Teknik Elektro, Singapura. Menurut Merry, saat itu ia merasa berada di dalam sebuah film perang. Di mana ia diminta pergi meninggalkan Indonesia agar selamat. Jika ada yang beranggapan bahwa Merry kuliah dengan suasana hati tenang dan uang pendidikan selalu tersedia, maka itu salah besar. Pasalnya, dia melanjutkan pendidikan di sana hanya bermodalkan uang pas-pasan bahkan kurang. Kemudian ia memutar otak untuk tetap bertahan hidup di sana. Di tengah kemelut kondisi keuangan, Merry ikut program pinjaman pelajar dari pemerintah Singapura. Kredit pendidikan ini memang banyak diterapkan di negara lain agar memperoleh pendidikan layak. Tapi namanya pinjaman atau utang, Merry harus mengembalikannya.
Setelah melihat jumlah total utang yang dipinjamnya kemarin itu sebesar 40 ribu SGD. Sadar dengan tumpukan utang yang harus dicicil, dan agar tetap bertahan hidup di negeri Singa, Merry terpaksa bekerja paruh waktu mulai dari sebagai penyebar brosur, menjaga toko bunga, dan pekerjaan lainnya. Saat itu, uang saku Merry hanya sebesar 10 dolar Singapura per minggu sehingga kadang dirinya harus menahan rasa lapar dengan berpuasa.
Tidak ingin seperti ini terus, Merry berpikir keras, dan menancapkan tekad untuk bebas dan merdeka secara finansial saat usianya menginjak 30 tahun. Hal ini ia niatkan ketika berumur 20 tahun. Hingga akhirnya dia berpikir jika ingin mengumpulkan uang dengan nominal yang sama seperti pinjamannya tersebut, maka harus membutuhkan waktu selama 10 tahun bekerja baru dapat melunasi hutangnya tersebut. Kemudian ia memutuskan untuk berbisnis di Multi Level Marketing (MLM). setelah coba untuk menjalani ternyata bukannya untung, malah buntung dengan kerugian sebesar 200 dolar Singapura. Sudah jatuh tertimpa tangga, ini juga yang dirasakan Merry. Ia kembali mencetak rugi yang membuatnya kehilangan uang sebesar 10 ribu dolar Singapura saat menjajal peruntungan di investasi saham.
Meski hidup pas-pasan dan dirundung kemalangan karena bisnisnya tidak untung, Ibu dari dua orang anak ini mampu menyelesaikan studinya tepat waktu menjadi seorang Insinyur Teknik Elektro. Barulah kemudian pintu kesuksesan mulai terbuka sedikit demi sedikit. Tepatnya di tahun 2002, ia bergabung dengan sebuah perusahaan keuangan sebagai Konsultan Finansial. Profesinya juga mengharuskannya menjual berbagai macam produk keuangan, seperti asuransi dan kartu kredit. Pada awal karirnya ini, Merry merasa kesulitan melakukan komunikasi dengan klien di Singapura menggunakan Bahasa Mandarin. Namun ia tidak menyerah dan terus belajar. Berkat ketekunan dan kerja keras hingga belasan jam per hari, ia sukses meraup lebih dari 200 ribu dolar atau sekitar Rp 2 miliar (kurs Rp10.000 per dolar Singapura).
Dengan penghasilannya yang seperti itu, ia mampu melunasi kredit dana pendidikan sebesar 40 SGD. Kisah inspiratifnya tersebut kemudian dibukukan oleh seorang Alberthiene Endah tertarik untuk menuangkannya menjadi sebuah buku. Berjudul “Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar,” buku ini terbit pada akhir tahun 2011. Begitu dilempar ke pasaran, buku tersebut sukses menjadi best seller. Saking suksesnya, buku ini diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama garapan Hestu Saputra di bawah MD Pictures. Film yang dibintangi oleh Chelsea Islan, Dion Wiyoko, dan Kimberly Ryder, serta Ferry Salim tersebut rilis di tahun 2014 dan berhasil membius penonton dengan cerita yang menginspirasi.
Baca juga : Figur Hari Ini, Hanya Dengan Rp 80.000 Si Bos Bukalapak Bisa Mewujudkan Khayalannya
Setelah 16 tahun tinggal di Singapura, ia memutuskan untuk balik ke tanah air untuk menjalankan niat mulianya. Yaitu, berbagi ilmu sehingga membuat hidupnya dan orang lain lebih berarti. Saat ini, Merry Riana dikenal sebagai motivator nomor satu di Indonesia maupun di Asia. Ia juga merupakan pengusaha, influencer, dan educator. Miliarder ini pun mendirikan sebuah pusat pengembangan diri bagi anak-anak usia 9-19 tahun bernama Merry Riana Learning Center (MRLC).
Kisah Merry Riana ini, membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah hal yang menghalangi untuk menuju kesuksesan melainkan adalah pintu keberhasilan. Terutama keterbatasan dalam hal materi. Jika Anda ingin sukses, jangan pernah takut untuk melangkah dan membuktikan kepada dunia bahwa diri sendiri mampu.